Empat Hidangan Pilihan dari Banda Aceh


  • Oleh Isyana Artharini

    Bagian kedua dari tulisan tentang beberapa tempat yang menawarkan petualangan makanan di Banda Aceh bagi Anda:

    Martabak Ayah (Jl TWK Mohd Daudsyah-Banda Aceh)
    Dalam pembuatan martabak yang umum, biasanya “kulitnya” yang lebar akan dibentangkan di atas penggorengan. Lalu dituangi campuran telur, sayuran dan daging. Tetapi martabak aceh punya cara masak yang berbeda. Canai, atau kulitnya, akan terletak justru di dalam martabak.

    Pertama-tama memang adonan kulit ditaruh di atas penggorengan, lalu dituangi adonan telur dan sayur. Menjelang matang, martabak dibalik, lalu dituangi adonan telur lagi di sisi yang lain. Adonan telur akan ditambahkan bolak-balik pada martabak di penggorengan. Ketika matang di satu sisi, ditambah telur lagi. Begitu terus sampai seluruhnya matang. Hasilnya, kulit martabak pun akan terbenam di dalam campuran telur.

    Sayuran yang masuk dalam adonan adalah daun bawang, kol, ditambah merica, garam dan cabai. Kemudian, acar bawang merah akan menemani martabak. Berdiri 30 tahun yang lalu, canai Martabak Ayah ini sudah dibawa hingga ke Taiwan.

    Jalan TWK Mohd Daudsyah sendiri bisa menjadi objek wisata: di jalan ini berderet kios pangkas rambut — sebuah profesi yang dijalani secara turun-temurun.

    Mi Aceh Razali (Jl TP Polem No 83, Peunayong-Banda Aceh)
    Kalau Kopi Solong adalah tempat wajib untuk merasakan kopi aceh, Mi Aceh Razali adalah tempatnya menikmati mi aceh.

    Jika Anda tidak alergi kepiting, cobalah memesan mi kepiting di tempat makan ini. Kepiting yang hadir di campuran mie tidak sekadar basa-basi. Daging kepitingnya masih terasa manis. Bercampur dengan asam pedasnya kuah mi, Razali adalah penutup yang memuaskan bagi petualangan hidangan kuliner Anda di Banda Aceh.